wrapkit

Ternyata, Selama Ini Kita Terlalu Meremehkan Kambing

Memangnya kambing kenapa? Kan cuma ‘mbak-mbeeek’ aja, makan rumput, dan suka menyundul.

Ya nggak salah juga, sih! Tapi kalau yang kamu tahu cuma itu, kami punya kabar buruk.

Ternyata, ada beberapa hal tentang mereka yang barangkali tidak pernah terpikirkan oleh kita, tapi sudah dibuktikan lewat sains. Bahkan beberapa hasil penelitiannya mengajak kita untuk berpikir ulang. Semakin kita tahu, semakin terlihat kalau mungkin selama ini kita mengenal kambing hanya dari luarnya saja.

Berikut 5 Hal yang Ditemukan Ilmuwan Tentang Isi Kepala Mereka.

  1. Kambing bisa membaca mimic kita, dan lebih suka yang tersenyum. Riset dari Queen Mary University of London menunjukkan, ketika kambing disodorkan pilihan dua foto wajah manusia (satu senang, satu marah), mereka lebih suka mendekat dan berinteraksi lama dengan foto yang ekspresinya bahagia; yang mengindikasikan keterlibatan belahan otak kiri dalam memproses ekspresi positif. Jadi kambing bukan hanya "hewan ternak". Mereka punya kepekaan sosial untuk membaca emosi kita. Jadi kalau kita lagi marah-marah di depan kambing, dia notice, lho.
  2. Kambing juga mempunyai "logat" alias aksen, seperti manusia! Masih dari riset Queen Mary University of London; bayi kambing yang dibesarkan dalam kelompok sosial yang sama ternyata memiliki suara mengembik yang mirip satu sama lain seiring waktu. Para peneliti kemudian menyebutnya sebagai "aksen". Ini menunjukkan bahwa anak kambing memodifikasi suara mereka sesuai lingkungan sosialnya, mengembangkan "aksen" yang serupa. Kemampuan mengubah suara berdasarkan lingkungan sosial (vocal plasticity) ini termasuk langka di dunia mamalia. Sebelumnya hanya diketahui ada pada manusia, kelelawar, dan paus. Dan sekarang: kambing!

  3. Daya ingat kambing bisa bertahan sampai 10 bulan. Keren ya! Ilmuwan Queen Mary University of London pernah mengajarkan ke kambing bagaimana cara membuka kotak makanan melalui dua langkah, yaitu tarik tuas lalu angkat. Uniknya, kambing juga lebih suka belajar sendiri ketimbang meniru temannya. Bukan hanya cepat belajar. Sepuluh bulan kemudian, mereka masih mengingat cara membuka kotak makanan dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 2 menit! Tanpa latihan ulang. Kamu belum tentu ingat password Wi-Fi kantor(?)

  4. Kambing tahu cara "meminta tolong" ke manusia. Saat diberi tugas yang tidak bisa diselesaikan sendiri, kambing tidak hanya diam berpasrah diri. Mereka menoleh ke arah manusia yang menghadap mereka lebih awal dan lebih lama untuk meminta bantuan, persis seperti anjing yang meminta camilan di tempat tidak dapat mereka jangkau. Perilaku komunikasi terarah ini sebelumnya dianggap hanya dimiliki hewan "sahabat manusia" seperti anjing dan kuda.

  5. Dan yang paling penting, kambing bisa merasakan senang, takut, dan stres. Kambing merupakan makhluk sentient, yang artinya memiliki kapasitas untuk merasakan hal secara subjektif seperti rasa nyaman, tidak nyaman, serta sedih. Penelitian menunjukkan bahwa situasi dan penanganan tertentu bisa menyebabkan kambing ketakutan dan stres; ini terlihat dari perilaku maupun tubuh mereka. Jadi, kambing yang diam belum tentu dia baik-baik aja. Mereka hanya pasrah.

Sains sudah membuktikan bahwa kambing adalah hewan yang cerdas, memiliki ikatan sosial, dan kehidupan emosional yang kompleks; persis seperti anjing dan kucing yang kita sayang tiap hari.

Apakah lima hal di atas artinya hanya jadi fun facts, atau seharusnya mengubah cara kita ‘melihat’ mereka?

wrapkit

We are simply friends who share similar views on treating non human animals with the respect and compassion they so rightly deserve.

Including the right to live free from unnecessary suffering and exploitation.

Reach us on Social Media

Our location is strictly unpublished due to safety and educational reason. To visit us, please make an appointment by sending us a request email. Make sure you have read our FAQ section before sending an email. It might need time until we finally keep-in-touch

This site is donated by Oninyon Software Solution - PT. Oninyon Revolusi Kreatif Indonesia