wrapkit

STOP MAKAN DAGING KUCING: 4 Alasan Mengapa Kamu Dilarang Mengonsumsi Daging Kucing

Di awal bulan Agustus 2024 ini, kita dihebohkan dengan sebuah unggahan sosial media yang mengungkap seorang bapak pemilik kos di kawasan Gunungpati, Semarang, sedang melahap daging kucing. Daging kucing yang ia tersebut berasal dari kucing-kucing liar yang kerap berseliweran di area sekitar rumahnya.

Kejadian penggerebekan itu dilakukan oleh anak-anak kos yang sebelumnya mencurigai keberadaan kucing-kucing di kos hilang satu per satu. Saat ditanya oleh anak kos, dia mengaku bahwa mengonsumsi daging kucing bisa mengobati diabetes yang diidapnya. Sebab, selain alasan tidak ada biaya berobat lagi, obat yang diberikan dokter sudah tidak mampu menurunkan kadar gula darahnya.

Mirisnya, perbuatan mengambil kucing liar untuk dagingnya dikonsumi bukan hanya terjadi sekali ini. Ia mengaku bahwa sudah sepuluh kali mengonsumsi daging kucing-kucing tersebut sebanyak 10 kali dalam setahun.

Kurangnya edukasi tentang daging kucing, membuat si bapak kos jauh dari moralitas. Selain tidak etis, mengonsumsi daging kucing tidak dapat dibenarkan.

Mengapa konsumsi daging kucing dilarang? Berikut 4 alasan mengapa manusia dilarang mengonsumsi daging kucing.

1.  Kucing tidak termasuk bahan pangan manusia

Kucing merupakan hewan dampingan, dan bukan kategori bahan makanan manusia. Hal ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Dan juga dikuatkan dengan UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diubah dengan UU 41 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009.

2.  Ancaman RABIES

Kucing adalah salah satu Hewan Penular Rabies (HPR). Rabies adalah penyakit menular akut yang akan menyerang susunan saraf pusat pada manusia dan hewan berdarah panas yang ditularkan melalui saliva, yaitu anjing, kucing dan juga monyet yang terkena rabies melalui gigitan atau luka terbuka. Saat ini, penyakit rabies tengah menjadi salah satu KLB (Kejadian Luar Biasa) di Indonesia, dengan total kematian akibat rabies mencapai 11 orang hingga April 2023.

3.  Mudah terjangkit infeksi dan penyakit lain

Organisasi kesehatan dunia atau WHO (World Health Organization) memperingatkan bahwa mengonsumsi daging kucing dapat meningkatkan 20 kali lipat risiko terinfeksi bakteri, antara lain:

  • Tuberculosis: infeksi bakteri Mycobacterium    tuberculosis
  • Brucellosis: infeksi bakteri Brucella
  • Hepatitis: terutama hepatitis C
  • Leptospirosis: infeksi darah oleh bakteri Leptospira
  • Infeksi bakteri E. Coli dan Salmonella.

4.  Sangat tidak etis dan jauh dari moralitas

Tak peduli apapun alasannya, mengonsumsi daging kucing tidak dapat dibenarkan maupun dihalalkan, tidak etis dan tidak bermoral. Dan bisnis perdagangan daging kucing adalah BISNIS YANG MELIBATKAN BANYAK KEKEJAMAN!

* * *

Tepat di Hari Kucing Sedunia yang jatuh pada 8 Agustus 2024 ini, Animal Friends Jogja mengajak dan menghimbau, sudah saatnya masyarakat sadar bahwa tidak ada alasan apapun yang bisa dibenarkan dari kebiasaan buruk mengonsumsi daging kucing (dan anjing).

STOP MAKAN DAGING KUCING. STOP MAKAN DAGING ANJING

wrapkit

We are simply friends who share similar views on treating non human animals with the respect and compassion they so rightly deserve.

Including the right to live free from unnecessary suffering and exploitation.

Reach us on Social Media

Our location is strictly unpublished due to safety and educational reason. To visit us, please make an appointment by sending us a request email. Make sure you have read our FAQ section before sending an email. It might need time until we finally keep-in-touch

This site is donated by Oninyon Software Solution - PT. Oninyon Revolusi Kreatif Indonesia