[Press Release] Bantu Tangani Konflik Kera Ekor Panjang dengan Penduduk, Animal Friends Jogja dan Komunitas Lokal Adakan Pelatihan Pemetaan di Gunung Kidul
Sebagai bagian dari rencana konservasi habitat monyet ekor panjang, pada 4-5 Januari 2022 Animal Friends Jogja (AFJ) bekerjasama dengan warga Gunung Kidul, Sanggar Garuluku dan LSM Jiwa Laut mengadakan pelatihan pemetaan partisipatif di Sanggar Garuluku, Kemadang, Gunung Kidul.
Kegiatan ini menghadirkan fasilitator dari Perkumpulan Bentara Papua, yang berpengalaman mendampingi masyarakat adat memetakan wilayah Hutan Adat Papua Barat. Pelatihan ini diharap dapat membantu warga memetakan persebaran koloni monyet yang ada di Gunungkidul, dan menemukan akar masalah dari konflik monyet di dusun masing-masing.
Selama dua hari, peserta yang berasal dari relawan AFJ, Sanggar Garuluku Kemadang, Rumah Belajar Rakyat Siraman, Lumbung Kawruh Rongkop, dan Komunitas Merangkul Bumi (KOMBI) Jepitu, mempelajari dan mempraktikkan prinsip pemetaan partisipatif.
Hari pertama dimulai dengan merumuskan kembali apa itu peta dan fungsinya bagi warga kampung, difasilitasi oleh Imam Setiawan dan Nurhani Widiastuti dari Perkumpulan Bentara Papua. Peserta juga diminta untuk membuat sketsa pedukuhan tempat tinggalnya, menggali isu yang terjadi di masingmasing wilayah, serta membaca dan menandai peta spasial Gunung Kidul.
Kegiatan hari kedua diawali dengan mengunjungi seputaran Pantai Kukup dan Baron, lokasi yang dikenal sebagai wilayah ruaya monyet. Di sini, peserta diberikan pelatihan lapangan menggunakan GPS untuk menandai koordinat di mana monyet kerap terlihat. Selain itu, peserta juga mengumpulkan informasi dari warga terkait kebiasaan dań waktu monyet menampakkan diri.
“Selama ini monyet sudah menjadi permasalahan yang kompleks di tingkat petani. Mudah-mudahan setelah dapat tambahan ilmu dari sini, bisa saya kembangkan dan aplikasikan ke masyarakat. Meskipun tidak serta-merta, semoga secara jangka panjang akan bisa teratasi dengan kesadaran masyarakat. Potensi di wilayah saya juga bisa terpetakan,” ujar Pariya, Dukuh Karanglor, Kelurahan Jepitu.
Kegiatan pelatihan diakhiri dengan menyusun bersama-sama peta strategi atau mind map sebagai tindak lanjut dari diskusi peserta. Peta strategi dibuat berdasarkan pengamatan langsung peserta, pengalaman pribadi, dan informasi yang dikumpulkan dari petani juga pedagang di kawasan pariwisata.
“Sejauh ini kita tidak punya bukti valid terkait penyebab kemunculan monyet di ladang warga, dan solusi yang diambil akhirnya mengorbankan monyet tanpa ada rencana jelas untuk menyelasaikan problem yang sudah berlangsung menahun ini. Harapan kami, kegiatan ini dapat menjadi titik terang untuk menemukan solusi yang tidak merugikan monyet sebagai satwa liar yang memang berhabitat asli di sini,” ujar Angelina Pane selaku manajer program AFJ.
