Peringati Ban Live Ekspor 2025, AFJ Bawa Pesan Penting di Neko Neko Learning Fest
Memperingati Hari Penyadartahuan Internasional Pelarangan Ekspor Hewan Hidup atau Ban Live Exports yang jatuh pada 14 Juni 2025, Animal Friends Jogja (AFJ) membawa pesan penting pada acara Neko Neko Learning Fest di Atrium Lippo Mall Jogja. Kami berbagi kengerian di balik layar yang terjadi pada praktik impor hewan hidup, yang sering kali diabaikan penderitaannya dan jarang diekspos oleh media.
Setiap tahun, jutaan hewan ternak diekspor ke luar negeri. Bukan untuk hidup yang lebih baik, akan tetapi untuk mati di negeri asing melalui tahapan yang menyiksa. Lalu, mengapa mereka harus disiksa begitu jauh? Karena manusia menginginkan makan daging segar, karena industri lebih peduli pada untung daripada nyawa, dan karena kita terlalu diam.
INDONESIA MENJADI SALAH SATU NEGARA YANG TERLIBAT DALAM PRAKTIK INI
Ratusan ribu hewan hidup diangkut ribuan kilometer melintasi samudera ke Indonesia setiap tahunnya, dalam kondisi tersiksa. Di tahun 2023 saja, 339.414 sapi hidup diimpor dari Australia. Di atas kapal, mereka saling berdesakan, berdiri di atas kotorannya sendiri, tanpa ruang untuk berbaring, tanpa cukup makanan dan air minum, tanpa udara segar, tanpa kepastian hidup.
PARA HEWAN YANG DITERNAKKAN MENGALAMI BERBAGAI PENDERITAAN SELAMA PERJALANAN
Dalam perjalanan panjang, para hewan diangkut selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Dipaksa berdiri di lantai besi yang licin oleh kotoran, ditelan panas ekstrem yang menyebabkan dehidrasi, bau amonia, cedera dan aroma kematian.
Mereka terombang-ambing di atas kapal, tanpa persediaan makanan dan minuman yang memadai, serta diperlakukan kasar saat bongkar muat. Banyak yang tak pernah tiba di daratan. Nyawa-nyawa hilang dalam gelombang perdagangan. Bagi yang berhasil bertahan, bukan berarti selamat! Melainkan hanya menunggu gilirannya di tempat jagal.
DAMPAK BURUK BAGI BUMI
Jejak kekejaman nyatanya tak berhenti di peternakan atau pelabuhan. Ia menembus hutan, menyingkirkan satwa liar, dan menorehkan luka permanen di bumi.
Sebanyak 88% habitat satwa liar di Australia telah musnah demi padang gembala untuk peternakan sapi. Supermarket besar dan jaringan makanan cepat saji menjadi salah satu pendorong utama deforestasi di Australia demi daging yang akan dipasarkan di dalam negeri maupun diekspor, termasuk ekspor hewan hidup.
SUDAH SAATNYA PEMERINTAH INDONESIA BERPIHAK
Tidak ada hewan yang pantas dipaksa untuk menderita dalam PERJALANAN YANG SANGAT MELELAHKAN di darat dan laut, hanya untuk digemukkan sebelum akhirnya menjemput ajalnya di tempat tujuan. Impor hewan hidup BUKAN solusi. Ini adalah bentuk kekejaman modern yang masih dibiarkan. Jika kita diam, maka kita turut membiarkan mereka menderita.
Negara punya kekuatan untuk mengubah arah! Inggris saja sudah resmi melarang ekspor hewan hidup. Selandia Baru dan Brasil menyusul. Bahkan Australia, negara eksportir utama, mulai mengambil langkah untuk menutup pintu perlahan. Pemerintah Indonesia tak bisa terus menjadi penonton. Sudah terlalu lama kekejaman dalam praktik ekspor-impor hewan hidup dibiarkan.
Desak pemerintah Indonesia untuk segera:
HENTIKAN IMPOR HEWAN HIDUP, PERKETAT REGULASI KESEJAHTERAAN HEWAN, DUKUNG KELESTARIAN LINGKUNGAN.
