Mau Sampai Kapan Membiarkan Mereka Terlahir, Kalau Akhirnya Hanya Ditelantarkan / Open Adopsi?
Di Daerah Istimewa Yogyakarta saja, ratusan anak kucing dan anak anjing terlahir, setiap harinya. Bukan ke dunia yang hangat dan penuh kasih, malah (berakhir) ke jalanan yang kejam, penuh lapar, penyakit, dan ancaman bahaya misalnya diracun; seperti dugaan kasus yang baru saja terjadi di Malang, mengenai kematian mendadak belasan kucing.
Sering kali, bayi-bayi kucing dan anjing bukan terlahir karena pilihan, tetapi karena kelalaian manusia yang menunda atau menolak sterilisasi.
Padahal, sterilisasi bukan hanya mencegah mereka sakit atau terlibat dalam perkelahian, namun juga menghentikan rantai kelahiran yang berujung pada penelantaran massal.
Tak jarang, (selain konteks jual-beli) istilah open adopt juga sering dipakai sebagai tameng supaya "si dia/si kamu" tidak merasa bersalah atau disalahkan. Padahal esensinya sering kali sama: penelantaran / lepas tanggung jawab.
OPEN ADOPT bukan bentuk kasih sayang. Itu bentuk lain dari penelantaran!
Saat mengadopsi anjing atau kucing, kita membuat komitmen jangka panjang. Komitmen itu nggak berhenti waktu kamu sibuk, punya anak, pindah rumah, atau merasa "nggak sanggup lagi". Karena komitmen itu diuji justru saat keadaan nggak ideal.
Ketika kamu mengatakan:
"Saya ini nggak menelantarkan! Masih mending saya nyari adopter, bukan membuangnya!”
Nampaknya terdengar baik, ya??
TAPI, KENYATAANNYA, kamu melepas makhluk hidup yang sudah percaya padamu, kamu lempar tanggung jawab ke orang lain, dan kamu tinggalkan mereka saat mereka paling butuh kamu.
Yuk! Jangan tunggu sampai rumahmu penuh! Jangan tunggu sampai kamu bingung cari adopter (karena nggak gampang nyari adopter bertanggung jawab)!
Jangan tunggu sampai mereka dibuang!
Mulai dari satu langkah kecil: STERILKAN KUCING DAN ANJINGMU.
Sterilisasi bukan tentang menghalangi kodrat alam, tetapi tentang mencegah penderitaan yang terus berulang. Kalau kamu bisa cegah lahirnya ribuan anak kucing dan anjing jalanan yang tak diinginkan, kenapa enggak?
