wrapkit

Korupsi Jelas Salah, Tapi Penderitaan Satwa Liar di Balik Kebun Binatang Tidak Dimulai dari Korupsi!

Kasus dugaan korupsi di Kebun Binatang Surabaya (KBS) membuat publik geram, dan itu wajar. Rp10,2 miliar digelapkan. Anggaran pakan disunat. Satwa akhirnya malnutrisi, rentan sakit, bahkan mati.

Tapi ada satu hal yang perlu kita luruskan sejak awal: korupsi bukan sumber penderitaan satwa di kebun binatang. Korupsi hanya mempercepat dan mempertontonkannya.

Seandainya tidak ada satu rupiah pun yang digelapkan. Seandainya setiap anggaran pakan cair penuh, setiap kandang direnovasi tepat waktu, setiap dokter hewan digaji layak, apakah satwa akan berhenti berjalan dalam lingkaran sempit yang jauh lebih kecil dari jarak tempuh alaminya? Apakah mereka akan berhenti mondar-mandir di balik jeruji, sebuah perilaku stres yang dikenal sebagai stereotypic pacing, yang muncul justru ketika ruang gerak tidak pernah cukup?

Nampaknya tidak, kawan. Karena masalahnya bukan cuma soal uang yang hilang, akan tetapi soal desain itu sendiri: menempatkan satwa liar yang secara biologis dirancang untuk menjelajah, berburu, bermigrasi, memilih pasangan, membesarkan anak di alam terbuka, ke dalam ruang yang dibatasi pagar, kaca, dan jam kunjung wisatawan.

Setiap kali skandal kebun binatang muncul ke permukaan, narasinya cenderung berhenti di satu titik: pejabatnya ditahan, uangnya diusut, publik merasa keadilan sudah ditegakkan. Lalu kandang yang sama, sistem pemeliharaan yang sama, dan konsep "hiburan berbasis satwa" yang sama, terus berjalan seperti sebelumnya, walaupun mungkin dengan direktur baru.

Kalau pun kebun binatang dikelola sebersih-bersihnya dan sebaik-baiknya, masih sejahtera kah satwa di dalamnya?

Kawan, penderitaan satwa liar dalam kandang bukan hanya soal pakan yang cukup atau kandang yang bersih. Ada kebutuhan yang tidak bisa dibeli dengan anggaran sebesar apa pun, yaitu ruang jelajah yang luas, otonomi untuk memilih, kompleksitas sosial dan lingkungan yang menyerupai habitat asli. Semua itu adalah sesuatu yang secara struktural sangat sulit bahkan mustahil dipenuhi oleh model kebun binatang komersial, sebagus apapun niatnya.

Ini bukan soal "Kebun Binatang yang Baik vs Kebun Binatang yang Korup”, ya. Diskusi publik sering terjebak pada perbandingan yang salah kaprah: kebun binatang yang dikelola korup versus kebun binatang yang dikelola bersih dan profesional. Padahal perbandingan yang seharusnya diajukan adalah antara ruang penangkaran demi hiburan dan keuntungan komersial, versus ruang konservasi yang dirancang demi kepentingan satwa itu sendiri; yaitu cagar alam, suaka margasatwa, dan habitat yang dilindungi.

Kasus KBS memang harus diusut tuntas, dan pelakunya harus mempertanggungjawabkan setiap rupiah yang mereka rampas dari mulut satwa yang tidak bisa ‘bersuara’. Tapi jangan biarkan kemarahan publik berhenti di sana. Karena setelah kasus ini selesai, setelah tersangka dihukum, setelah anggaran normal kembali cair, para satwa itu akan tetap berjalan di lingkaran yang sama. Mereka akan tetap mondar-mandir di balik jeruji yang sama. Bukan karena korupsi. Tapi karena mereka seharusnya tidak pernah berada di sana sejak awal.

Uang bisa diaudit. Tapi ruang hidup yang layak untuk satwa liar tidak bisa dibangun di dalam kandang.

Dukung konservasi alam dan cagar alam, ruang hidup yang dirancang agar satwa liar tetap liar, bukan menjadi objek tontonan yang dikurung demi tiket masuk.

wrapkit

We are simply friends who share similar views on treating non human animals with the respect and compassion they so rightly deserve.

Including the right to live free from unnecessary suffering and exploitation.

Reach us on Social Media

Our location is strictly unpublished due to safety and educational reason. To visit us, please make an appointment by sending us a request email. Make sure you have read our FAQ section before sending an email. It might need time until we finally keep-in-touch

This site is donated by Oninyon Software Solution - PT. Oninyon Revolusi Kreatif Indonesia