Jika Tidak Ada Peternakan Intensif, Apakah Hewan Ternak Akan Overpopulasi ?
Sistem peternakan intensif selama berpuluh-puluh tahun bukan sekadar memproduksi pangan, tetapi menciptakan penderitaan massal akibat kepadatan ekstrem, pembatasan perilaku alami, dan stres kronis pada hewan. Peternakan intensif (factory farming) dipilih bukan karena paling “manusiawi”, melainkan karena paling efisien secara ekonomi.
Salah satu argumen yang paling sering muncul ketika membahas penghapusan peternakan intensif yaitu:
“Kalau peternakan intensif dihentikan, hewan ternak akan overpopulasi.”
Namun, secara ilmiah, anggapan ini tidak tepat.
Menurut FAO (Food and Agriculture Organization), populasi hewan ternak di dunia tidak diatur oleh mekanisme alam, melainkan oleh intervensi manusia secara langsung, mulai dari inseminasi buatan, seleksi genetik, hingga pengaturan siklus reproduksi demi memenuhi permintaan pasar.
Penelitian oleh Steinfeld et al. (FAO, Livestock’s Long Shadow) menegaskan bahwa pertumbuhan populasi hewan ternak global selama puluhan tahun terakhir sepenuhnya didorong oleh ekspansi industri peternakan, bukan oleh kebutuhan biologis hewan itu sendiri.
Dengan kata lain, hewan ternak tidak berkembang biak secara alamiah seperti satwa liar di alam.
Selain itu, studi besar oleh Poore & Nemecek (2018, Science) menunjukkan bahwa:
-
Peternakan intensif menggunakan sebagian besar lahan pertanian dunia, air dan energi,
-
Berdampak besar pada iklim dan lingkungan
-
Dan bergantung pada pembiakan hewan dalam skala yang jauh melampaui keseimbangan ekologis.
Artinya, justru sistem peternakan intensif-lah yang menciptakan kondisi “overproduksi”, bukan sebaliknya.
Dari sudut pandang kesejahteraan hewan, World Organisation for Animal Health (WOAH/OIE) menekankan bahwa persoalan utama bukanlah jumlah hewan, tetapi apakah hewan dapat mengekspresikan perilaku alaminya, apakah kebutuhan biologis dan psikologisnya terpenuhi, dan apakah hidup mereka dijalani tanpa penderitaan yang sebetulnya bisa dicegah?
Laporan panel ilmuwan internasiona, lIPCC — Climate Change and Land, merekomendasikan perubahan pola pangan global, termasuk pengurangan peternakan intensif, untuk mengatasi krisis iklim. Ini mendukung bahwa sistem produksi produk pangan hewani besar berdampak luas. Bukan soal moral semata, tapi dampak nyata ke bumi dan kesehatan publik.
Jika peternakan intensif tidak ada, yang terjadi bukan lonjakan populasi, melainkan penghentian pembiakan massal. Hewan tidak lagi “diproduksi” untuk hidup singkat dalam penderitaan. Jumlah hewan akan menurun secara bertahap dan terkontrol, seiring berkurangnya permintaan dan perubahan sistem produksi pangan. Sehingga, tidak ada dasar ilmiah yang menunjukkan risiko overpopulasi global.
