[AFJ Update] Jaga Hutan Jaga Habitat: Daulat Ketahanan Pangan untuk Monyet di Gunungkidul
Januari 2026 masuk musim hujan. Waktu yang tepat untuk menanam pohon dan niat baik bagi para monyet di Gunungkidul.
29 Januari 2026 pagi, kami kembali lagi masuk hutan yang berada di Kemadang, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berjalan kaki kurang lebih dua kilometer. Tidak terlalu jauh, tapi cukup terasa karena sambil membawa pohon yang sudah agak besar (mungkin remaja), logistik, peralatan bercocok tanam, dan semangat yang harus dijaga.
Bersama relawan Aksi Peduli Monyet, dengan dukungan The Joanna Toole Foundation dan Jiwa Laut, kami mencoba membantu sedikit demi sedikit memulihkan habitat yang makin terdesak. Sebab hutan kian menyempit, sumber pakan berkurang, sementara investasi pariwisata terus jalan.
Tujuan utama kami sederhana: menanam pohon sumber pakan untuk monyet ekor panjang.
Ini bukan proyek besar yang ratusan hektare. Kali ini kami baru bisa membawa sedikit pohon jambu air dan asam jawa. Tapi kami tahu, di tempat seperti ini, belasan pun berarti.
Sampai di lokasi, kami beres-beres terlebih dahulu. Membersihkan semak di sekitar gubuk istirahat. Gubuk sederhana ini berdiri berkat dukungan The Joanna Toole Foundation. Bahkan ada dua tandon penampungan air hujan dengan kapasitas 7.000 liter. Di tengah hutan yang makin terdesak, fasilitas kecil seperti ini rasanya mewah, cukup untuk bertahan bagi alam, terutama saat musim kemarau.
Kami lanjutkan istirahat sebentar, minum teh, makan, dan bertukar keceriaan sebentar untuk mempersiapkan tenaga untuk menanam pohon. Karena menanam pohon itu romantis di foto, tapi tetap butuh otot di dunia nyata. Hehe!
Satu per satu. Belasan lubang digali, pohon ‘remaja’ masuk tanah, ditutup beserta daun-daun kering untuk jadi seresah penutup dan pupuk alami ketika membusuk.
Saat musim kemarau datang, hutan tidak cukup memberi makan dan air. Monyet-monyet turun ke ladang warga untuk mengatasi rasa lapar. Mereka hanya bertahan hidup. Tapi narasinya berubah: monyet adalah hama. Padahal siapa yang terlebih dulu “mengganggu”?
Pohon-pohon tersebutlah yang nantinya diharapkan menjadi sumber pakan masa depan untuk monyet ekor panjang yang hidup di hutan ini. Habitat monyet ekor panjang di Gunungkidul semakin hari semakin menyempit. Hutan banyak hilang, ruang hidup terdesak, terutama oleh geliat investasi pariwisata yang tumbuh cepat. Alam pelan-pelan digeser, tapi konflik yang muncul selalu menyalahkan satwa liar.
Terkadang perubahan memang tidak datang dalam skala besar. Tidak juga viral. Tapi ia tumbuh pelan, seperti pohon yang kami tanam di hutan ini. Memang membutuhkan waktu, hujan dan yang tak kalah penting yaitu dijaga.
Semoga manusia dan alam bisa berbagi ruang tanpa saling menyingkirkan. Dan semoga belasan pohon beserta puluhan pohon yang sudah kami tanam sebelum-sebelumnya ini, akan menjadi cerita tentang bagaimana harapan memang bisa ditanam.
