wrapkit

0 Km Jogja: Menceritakan Geopark Gunung Sewu dan Satwa Liar yang Tersisa

Monyet ekor panjang di kawasan Geopark Gunung Sewu adalah korban. Aksi Peduli Monyet dan Animal Friends Jogja menceritakan ke pengunjung Malioboro tentang bisnis pariwisata yang merusak  ekosistem karst yang menghapus ruang hidup satwa dan warga.

Pada 11 April 2026, komunitas Aksi Peduli Monyet bersama Animal Friends Jogja [AFJ] berinteraksi dengan pengunjung Malioboro, Yogyakarta, mengajak mereka bertanya: ketika keluarga monyet turun ke kebun warga karena hutannya sudah tidak ada, apa akar masalah sebenarnya?

Bergerak dari Titik Nol Kilometer, ke pintu barat Kantor DPRD Yogyakarta, lalu sepanjang Malioboro,  mengajak siapapun yang peduli dengan alam untuk memboikot tempat-tempat wisata yang telah merusak Geopark Gunung Sewu, menghancurkan ekosistem karst, dan merampas ruang hidup satwa liar serta warga yang bergantung padanya.

Berjalan di antara keramaian. Kami membawa kegelisahan, dan kisah para korban yang selama ini tidak pernah ada di dalam percakapan pariwisata.

Sebuah Label yang Tidak Adil

Ada keserakahan diam-diam merusak Geopark Gunung Sewu. Satwa liar, terutama monyet ekor panjang yang telah jauh lebih lama menghuni hutan karst ini sebelum jalan aspal pertama dibangun, kini sering kali dijumpai di kebun-kebun warga. Mereka mengambil singkong, pisang, jagung, dan sumber pakan lain yang bisa mereka makan. Dan mereka diberi label: hama.

Tapi apa penyebab mengapa mereka ke sana?

Bukan karena naluri ‘merusak’. Bukan karena mereka tiba-tiba berubah sifat. Mereka turun karena tempat mereka mencari makan kian menyempit,tidak lagi cukup sebagai rumah tinggal mereka. Kawasan hutan Geopark Gunung Sewu yang menjadi ruang hidup satwa liar terus tergerus akibat aktivitas pertambangan dan pembangunan masif untuk bisnis pariwisata. Ini bukan konflik antara manusia dan satwa, melainkan dampak pembangunan yang melihat alam semata objek eksploitasi dan komoditas, bukan ruang hidup bersama.

Dari Titik Nol ke Ruang Percakapan

Kami jalan kaki menyusuri Malioboro; ruang publik yang lebih dikenal sebagai ruang pariwisata. Hari itu kami coba membangun percakapan.

"Geopark Gunung Sewu kawasan lindung. TUTUP bisnis perusak ekosistem karst."

"PULIHKAN ekosistem karst. BOIKOT pariwisata merusak."

Pelancong diajak ‘berhenti’ sejenak. Bukan untuk kami paksa setuju, melainkan untuk memahami. Kami membagikan brosur, berisi satu kenyataan yang kerap luput dari bingkai foto perjalanan: di balik destinasi wisata yang kita kunjungi, ada ekosistem yang sedang sekarat, dan ada satwa yang sedang kehilangan nama baiknya.

Pariwisata yang Tidak Pernah Bertanya Izin

Geopark Gunung Sewu adalah Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) yang dilindungi oleh Perda DIY No. 10 Tahun 2023—pemanfaatan ruangnya dibatasi hanya untuk kegiatan yang tidak mengubah morfologi karst dan tidak mengganggu ekosistemnya. Namun yang terjadi di Gunungkidul berkata lain.

Pembangunan wisata berbasis korporasi mengubah drastis wajah karst Gunung Sewu: bukit diledakkan untuk wisata yang serba cepat , beton dituang di atas bukit kapur yang seharusnya dibiarkan bernapas, sempadan pantai diprivatisasi. Geopark Gunung Sewu, yang seharusnya menjadi warisan bersama, kini tak ubahnya taman bermain para pemodal besar.

Kerusakannya tidak berhenti pada permukaan. Di bawah batu-batu karst itu mengalir jaringan sungai bawah tanah yang menjadi sumber air bagi seluruh kawasan. Ketika bukit-bukit dibelah dan dibebani konstruksi, sistem hidrologi ini terganggu: kemampuan penyimpanan air menurun, risiko pencemaran meningkat, aliran berubah arah. 

Sementara itu, struktur tanah karst yang berongga membuat kawasan ini sangat rentan terhadap longsor, tanah amblas, dan banjir. Wilayah pesisir selatannya sudah berada dalam bayang-bayang ancaman megathrust dan tsunami. Rusaknya ekosistem karst Gunung Sewu bukan hanya melukai hari ini, tetapi juga meruntuhkan daya tahan kawasan terhadap bencana yang belum datang.

Ekspansi ini merampas ruang hidup satwa, 30 keluarga yang hidup dari Pantai Watu Bolong menghadapi ancaman penggusuran. Monyet kehilangan rumah. Warga kehilangan tanah. 

Melampaui  Rasa Iba

Di tengah percakapan di Malioboro, satu hal menjadi jelas bahwa kerusakan bisa hadir dari pembangunan yang terlihat rapi, sebagai destinasi yang tampak menarik, sebagai pemandangan yang bahkan kita foto tanpa curiga.

Dan monyet yang turun ke kebun warga, HANYA sedang mencari makan di satu-satunya tempat yang tersisa.

Kami mengajak publik terlibat, mendukung petisi online yang tercantum di brosur. Sebuah langkah sederhana, namun penting bahwa kepedulian terhadap satwa dan ekosistem karst Gunung Sewu tidak boleh berhenti pada rasa iba, melainkan harus berubah menjadi sikap apakah kita akan terus menjadi bagian dari yang membiarkan ini terjadi?

Pariwisata bukan dalih perusakan lingkungan!

Desak DLH Provinsi D.I. Yogyakarta dan Kabupaten Gunungkidul mencabut izin usaha bisnis yang merusak ekosistem karst Gunung Sewu, dengan mengisi petisi DI SINI.

Sebarkan juga artikel ini ke orang-orang terdekatmu, ajak mereka mempertahankan ruang hidup dari kerakusan modal.

wrapkit

We are simply friends who share similar views on treating non human animals with the respect and compassion they so rightly deserve.

Including the right to live free from unnecessary suffering and exploitation.

Reach us on Social Media

Our location is strictly unpublished due to safety and educational reason. To visit us, please make an appointment by sending us a request email. Make sure you have read our FAQ section before sending an email. It might need time until we finally keep-in-touch

This site is donated by Oninyon Software Solution - PT. Oninyon Revolusi Kreatif Indonesia