Page 1
Standard

‪#‎SaveAllSharks‬ ‪#‎KamiCintaHiuDiLaut‬ ‪#‎SaveOcean‬

Berawal dari laporan adanya menu shark fin soup (sup sirip hiu) kepada Animal Friends Jogja (AFJ) yang akan disajikan pada malam perayaan Imlek, 18 Februari 2015 di Hotel Tentrem Yogyakarta, Dessy Zahara Angelina Pane yang akrab disapa Ina berkirim surat kepada manajemen hotel, pada Kamis (12/02/2015).

Dalam surat itu, AFJ mengkritisi, memberi penilaian, serta masukan kepada pihak hotel agar tidak menyajikan menu tersebut. Lima hari kemudian (17/02/2015), manajemen hotel baru merespon dan mengundang AFJ untuk bertemu pada Rabu (18/02/2015).

Dengan ditemani Bagas dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Rabu pagi Ina datang bertemu Nike Aristya Public Relation Manager Tentrem Hotel Yogyakarta, menanyakan pihak hotel akant etap menyajikan menu sirip hiu dan jenis hiu yang dikonsumsi.

Ina memaparkan dengan perburuan 100 ton ikan hiu per tahun menurut Organisasi Pangan Dunia (FAO), Indonesia menjadi negara terbesar penyumbang kepunahan ikan hiu. Padahal hiu berperan ekologis menjaga keseimbangan ekosistem di laut.

“Ketiadaan atau menurunnya populasi ikan hiu akan berakibat pada naiknya populasi predator dibawahnya dan menurunkan populasi ikan-ikan herbivora yang menyebabkan ekosistem tidak sehat,” kata Ina.

Ia menambahkan, Ikan hiu merupakan predator yang efektif karena hanya memakan ikan-ikan sakit, tua, dan lemah. Peran ini penting karena keberadaan hiu akan mencegah tersebarnya penyakit kepada ikan-ikan lain. Dalam hal perkembangbiakan, hiu berkembang biak dengan lambat. Usia hiu dewasa pada 5-15 tahun. Sekali beranak (ovivipar), hiu hanya menghasilkan 10-20 ekor anakan dengan rentang waktu masa beranak 2-3 tahun. “Jika hiu terus diburu dan dikonsumsi, maka tidak mungkin lagi bahwa hiu segera punah dan laut kita akan mati,” katanya.

Mengkonsumsi ikan hiu juga tidak baik untuk kesehatan karena predator teratas ekosistem laut itu berpotensi menyerap polusi laut seperti logam berat dan zat kimia lain seperti merkuri. Ina berharap Hotel Tentrem sebaiknya tidak turut serta dalam percepatan kepunahan hiu.

Sementara itu, Bagas dari JAAN menjelaskan, kepercayaan yang salah mengenai sup sirip hiu memang sudah ada sejak jaman Dinasti Ming karena para raja China dahulu sering memakan itu sehingga dianggap sebagai Chinese Delicacy Luxurious Item (makanan China yang lezat dan mewah).

“Sirip hiu menjadi industri bernilai miliaran rupiah di China karena dianggap makanan mewah, berkelas, dan menjadi menu kehormatan dalam acara-acara besar seperti Hari Raya Imlek,” kata Bagas.

Mitos keliru itu berdampak ke Indonesia, dengan perburuan ikan hiu. Lebih miris lagi, hasil investigasi JAAN dan AFJ, nelayan hanya mengambil siripnya, dan membuang badan hiu ke laut. Karena ukuran badan hiu yang besar, akan membebani kapal bila dibawa ke darat.

“Ini praktik sangat kejam bagi spesies satwa yang berperan besar menjaga kelestarian laut kita. Itulah yang menjadi alasan kami mengajak Hotel Tentrem untuk tidak turut serta dalam perusakan lingkungan dan kesehatan manusia,” kata Bagas.

Menanggapi hal tersebut, Nike Aristya Public Relation Manager Tentrem Hotel Yogyakarta kepada Mongabay mengatakan, pihaknya sudah membaca surat keberatan dari AFJ dan mengakui akan menyajikan menu shark fin soup (sup sirip hiu) pada malam Imlek. Ia mengatakan sesuai aturan hiu jenis kikir (Zhang Min Zhu) tidak dilindungi. “Jenis hiunya tidak dilindungi. Kami tidak menjual dan membeli sirip hiu ilegal Bisa di cek dan kami membeli secara legal,” kata Nike.

Beberapa hotel lain yang punya restoran china di Jogja juga menyajikan menu serupa. “Untuk malam Imlek besok kami tidak bisa membatalkan menu sirip Hiu. Kami juga sudah jualan menu sejak lama, sudah ada yang membeli dan memesan menu tersebut. Yang penting hiu yang dibeli itu tidak masuk kategori hiu dilindungi,” tambah Nike.

Nike menambahkan, pihaknya mendukung konservasi dan berjanji akan meniadakan menu tersebut untuk yang akan datang. Namun menurutnya disetiap chinese restoran pasti ada menu sirip hiu, karena bagi kaum Tionghoa, sirip hiu dianggap sumber kemakmuran.

“Kami akan meniadakan menu shark fin di chinese restoran sebagai bukti nyata dukungan kami untuk konservasi hiu dan satwa lain yang dilindungi,” Kata Nike menutup obrolan.

Aturan Perlindungan Hiu

Di Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan ikan hiu paus (Rhincodon typus) sebagai jenis ikan yang dilindungi secara penuh melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus (Rhincodon typus).

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selaku juga telah memberikan rekomendasi perlindungan penuh ikan hiu paus melalui surat Nomor. 2425/IPH.1/KS.02/X/2012 tanggal 12 Oktober 2012.

Saat ini ikan hiu paus masuk ke dalam Appendiks I CITES dan juga termasuk kedalam daftar merah IUCN dengan kategori rentan (vulnerable).

Ikan hiu paus yang dikenal dengan sebutan hiu totol atau hiu bodoh merupakan salah satu jenis ikan hiu terbesar di dunia. Indonesia merupakan salah satu jalur migrasi dari ikan hiu paus, hal ini terbukti dengan seringnya jenis ikan ini ditemui di beberapa wilayah perairan Indonesia seperti perairan Sabang, Situbondo, Bali, Nusa Tenggara, Alor, Flores, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua. Sepanjang tahun ikan ini dapat ditemukan di sekitar Tanjung Kwatisore, Nabire Papua dengan jumlah populasi diperkirakan sekitar 27 – 41 ekor.

sumber :

http://www.mongabay.co.id/2015/02/21/miris-hotel-ini-sajikan-menu-sirip-hiu-saat-imlek/

https://www.facebook.com/animalfriendsjogja/posts/827714863966326

Standard

UPDATE, ban shark fin soup at hotel Tentrem Jogja #saveshark

Halo Sahabat Satwa, hari ini pukul 11.00 AFJ diundang berdialog dengan pihak Hotel Tentrem Yogya sehubungan dengan penyajian menu sirip ikan hiu. Mari apresiasi itikad baik pihak Hotel Tentrem dengan memberikan dukungan untuk menghantikan penyajian menu ikan hiu di Hotel Tentrem Yogyakarta. Hasil dialog akan kami kabarkan kembali.‪#‎AkuCintaHiuDilaut‬ ‪#‎SelamatkanHiuSelamatkanLaut‬ |

 

Dear Animal Friends, we received invitation to have a dialogue at Tentrem Hotel today at 11.00 a.m regarding their restaurant’s shark fin soup menu. Let’s appreciate Tentrem Hotel’s good will by keeping on supporting them to join the efforts to ban shark fin soup. We’ll update the result of our dialogue. ‪#‎WeLoveSharksInTheOcean‬ ‪#‎SaveSharksSavetheOcean‬

10689947_822087437862402_7203988410177121960_n
Standard

ban shark fin soup at hotel Tentrem Jogja #saveshark

Terimakasih untuk semua Sahabat Satwa yang hadir di Adoption Day di CFD Jogja 15 Feb 2015 smile emoticon Posting kabar dan foto-foto, sabar ya…Sementara ini, kami perlu bantuan untuk menghentikan kekejaman terhadap HIU dan menyadartahukan tentang buruknya mengonsumsi hiu bagi kesehatan dan ekosistem laut. Tolong bantu menyelamatkan hiu dengan mengirimkan email keberatan ke info@hoteltentrem.com untuk menghimbau agar Hotel Tentrem tak lagi menyediakan menu ikan hiu. Fakta-fakta tentang hiu bisa dibaca di http://savesharksindonesia.org/ | Thanks to you all Animal Friends who participated at Adoption Day at CFD Jogja 15 Feb 2015 smile emoticon Pls be patient for our posting on this page…In the meantime, we’d need help from you to stop cruelty to sharks and to educate the public how dangerous it is for health and marine ecosystem if we eat sharks! Please help us to ban shark fin soup at hotel Tentrem Jogja by sending email to info@hoteltentrem.com to ban shark being served as food. Check this out for facts about sharks:http://savesharksindonesia.org/