Page 1
stopaduanjing
Standard

[Siaran Pers] Stop Adu Anjing di Indonesia

SIARAN PERS

STOP ADU ANJING DI INDONESIA

Penyalahgunaan dan Kekejaman Terhadap  Hewan Kesayangan

Jakarta, 25 November 2013 – Koalisi Masyarakat Nasional Anti Kekerasan Hewan Indonesia (Komnaskewan Indonesia)

Menghadirkan Nara Sumber :

  1. Rangga  (Manajer Operasional BAWA, Juru Bicara Koalisi Masyarakat Nasional Anti Kekerasan Hewan Indonesia/ Komnaskewan Indonesia)
  2. Benvika (Ketua Jakarta Animal Aid Network / JAAN – Indonesia )
  3. Dessy Z. A. P. (Manajer Program, Animal Friends Jogja / AFJ – Indonesia)
  4. Pemerhati Satwa Kesayangan (Davina Veronica | Garda Satwa, Alberthiene Endah | Penulis, dan Chico Hakim | Politisi)

Jakarta, 25 November 2013 – Hewan kesayangan Anjing dikenal sebagai sahabat baik manusia karena kesetiaannya. Sebagai hewan kesayangan, Anjing selayaknya dipelihara dengan baik, dijaga kesehatannya, disediakanmakanan yang cukup, diberikan perhatian. Banyak masyarakat di Indonesia yang karena rasa kasih sayangnya pada sahabat manusia berkaki empat ini, tidak sekedar menjadikan Anjing sebagai hanya hewan peliharaan tetapi menjadi bagian dari anggota keluarga.

Sayangnya, kesetiaan anjing yang positif bagi manusia sering disalahgunakan oleh para pelaku adu anjing  dengan dalih “Olahraga” di balik kepentingan kepuasan/ hiburan kekerasan atau perjudian. Adu Anjing merupakan kegiatan sadis, anjing-anjing dengan ras khusus dikembangbiakan, dikondisikan, dan dengan sengaja dilatih bertarung, seringkali hingga sang anjing menemui ajal. Sudah jelas ini merupakan tindakan kekejaman terhadap hewan dan melanggar hukum.

Aktivitas Adu Anjing dilakukan secara sembunyi-sembunyi di berbagai tingkatan; jalanan, hobiist di rumah-rumah pelaku dan bahkan yang ‘profesional’ dan sangat terorganisir.

Jaringan para pelaku adu Anjing di Indonesia tersusun rapih dan semakin sulit ditembus. Pihak-pihak yang terlibat memanfaatkan berbagai fasilitas sosial media untuk melancarkan kegiatan, perekrutan anggota maupun mengadakan perjudian terselubung.

Sebagian besar ras Anjing yang dieksploitasi dalam tindak kriminal adu anjing adalah APBT (American Pitbull Terrier) atau sering disebut Pitbull; anjing yang dikenal bersifat dasar sangat loyal dan rela berkorban. Sifat itu digabungkan dengan tenaga yang besar  acapkali membuatnya diperbantukan sebagai hewan pekerja untuk membantu manusia yang diffable. Selain sifat-sifat positif dan keunggulan fisik itu, keunggulan lain Pitbull dengan rahangnya yang kuat dan toleransi terhadap rasa sakit yang tinggi membuatnya menjadi kandidat sempurna untuk dieksploitasi dalam adu anjing!

Proses pelatihan dimulai dari kecil, anjing dibebani dengan rantai berat untuk menguatkan leher mereka, dipaksa menjalani latihan fisik yang berat, ditempatkan di area tanpa perlindungan terhadap cuaca untuk melihat daya tahan fisik mereka, tidak didiberi makanan cukup, menjalani berbagai pengkondisian untuk membuat mereka agresif terhadap anjing lain, seringkali dengan mengisolasi mereka dalam kandang tertutup dan gelap untuk beberapa waktu, dan bahkan diberikan berbagai stimulant seperti steroid agar menjadi agresif, dan zat Narkotik agar makin tahan sakit gigitan. Anjing-anjing yan menunjukkan agresivitas dan daya tahan fisik tinggi akan dijagokan sebagai anjing aduan, sedangkan yang dianggap afkiran akan dijadikan umpan atau sparring partner dalam latihan.

Dalam pertarungan sadis dan kejam, Anjing akan menderita luka berat dari gigitan, patah tulang serta kehabisan banyak darah hingga mengancam hidupnya. Anjing-anjing ini yang bersetia pada ‘si tuan’ rela bertarung sampai mati karena loyalitasnya.

Kegiatan sadis adu Anjing sering disaksikan oleh anak-anak ini dapat mempromosikan ketidakpekaan terhadap penderitaan hewan, antusiasme untuk melakukan kekerasan dan tidak menghormati hukum. Masyarakat tidak bersalah pun menjadi takut/terteror karena ada di daerahnya yang memelihara anjing aduan agresif dan tentu mengandung resiko tinggi bahwa akan ada korban jatuh. Pun, stigma negatif akan menempel pada si anjing yang dianggap buas, padahal itu adalah akibat perbuatan manusia haus darah yang mengeksploitasinya!

Lemahnya penegakan hukum di Indonesia menjadi daya tarik bagi negara ini untuk dijadikan lokasi dan menyuburkan kegiatan sadis dan kejam ini. Kegiatan adu anjing bertaraf nasional dan bahkan dihadiri pelaku dari mancanegara tercatat kerap diadakan di beberapa kota-kota besar di Indonesia; Jakarta, Yogyakarta, Malang, Bandung, Surabaya dll. Diindikasikan perkembangan saat ini adalah para pelaku adu anjing di Indonesia sudah masuk dalam jaringan sindikat internasional!

Korban hewan selamat dari adu anjing seringkali sulit untuk direhabilitasi agar kembali berperilaku normal karena ‘bentukan’ perilaku negatif telah terpatri kuat dan psikologis si anjing sudah terganggu akibat metode pelatihan dari kecil untuk diciptakan sebagai mesin pembunuh demi kebanggaan, profit, prestige dan hasrat haus darah para pelaku adu anjing.

Kegiatan adu Anjing  dengan jelas bertentangan dengan 5 prinsip kebebasan untuk kesejahteraan hewan :

  1. Kebebasan dari rasa haus dan lapar; saat di’latih’ bertahan hidup anjing-anjing dipaksa bertahan dengan minim pakan dan akses ke air minum.
  2. Kebebasan dari ketidaknyamanan secara fisik; saat pelatihan anjing-anjing ditempatkan di area tak terlindung dari paparan cuaca, dipaksa hingga batas maksimal kemampuan fisik mereka.
  3. Kebebasan dari rasa sakit, luka dan penyakit; saat ditarungkan dengan sengaja anjing-anjing itu mau tidak mau harus menahan sakit, terluka dan paska pertarungan seringkali pengobatan yang layak tidak diberikan.
  4. Kebebasan untuk mengekspresikan perilaku secara normal; anjing-anjing aduan diisolasi dari yang lain dan tidak dapat hidup berkelompok dan bersosialisasi.
  5. Kebebasan dari rasa takut dan tertekan; pertarungan yang dipaksakan oleh manusia.

Rujukan:

  • Pasal 302 KUHP tentang kesejahteraan hewan.
  • Five Freedom principles.
  • Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Pasal 66.
  • Surat Edaran Direktorat Jendral Peternakan Kementerian Pertanian Nomor 14090/HK.340/f/09.09 Tahun 2009.

Adu Anjing merupakan kegiatan sadis dan tindakan kekejaman terhadap satwa, anjing seringkali ditarungkan sampai mati, anjing yang kalah dapat terbunuh dan yang menang terkadang mati karena luka-luka infeksi dan cedera fatal. Kalaupun bertahan, mereka akan dipulihkan hanya untuk ditarungkan kembali. Kegiatan ini juga disinyalir kuat melibatkan perjudian terselubung. Ini merupakan bentuk pelanggaran dan tindak pidana.

Tak ada pemenang dan tak ada pecundang di adu anjing, yang ada hanyalah KORBAN manusia haus darah, haus profit dan kebanggaan diri.

 Stop Adu Anjing di Indonesia!!!