Page 1
lumbaa
Link

Larangan Sirkus Lumba-Lumba: Kokoh Regulasi, Nihil Instruksi

Kapan ya sirkus lumba – lumba bisa benar – benar diberhentikan ?  ;(

Yogyakarta sudah menghentikan semua aktivitas sirkus lumba-lumba keliling sejak dikeluarkannya surat Dirjen PHKA No. S. 388/IV-KKH/2013 tanggal 19 Agustus 2013 yang ditembuskan kepada Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan  dinyatakan bahwa BKSDA Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Jogja sudah tidak lagi mengeluarkan perijinan sirkus lumba-lumba keliling sejak keluarnya surat edaran dirjen PHKA,” kata Dessy Z. Angelina Pane dari Animal Friends Jogja kepada Mongabay-Indonesia.

Catatan Animal Friends of Jogja sejak keluarnya Surat Edaran dikeluarka kegiatan eksploitasi Lumba-lumba dalam bentuk pentas keliling sudah berlangsung di berbagai tempat. Diantaranya yaitu di Lapangan Kipan C521/DY, Tuban, Jawa Timur (13 September-13 Oktober 2013, oleh PT. Wesut Seguni Indonesia (WSI) di Kendal), di Lapangan Parkir Stadion Wergu, Kudus, Jawa Tengah (20 September-20 Oktober 2013 oleh PT. Wesut Seguni Indonesia di Kendal) dan disinyalir pentas keliling Lumba-lumba juga diselenggarakan di Pekalongan, Jawa Tengah.

“Sirkus lumba-lumba bulan lalu di Surakarta dan saat ini sedang berlangsung di Klaten,” kata Dessy Z. Angelina Pane, yang akrab di panggil Ina.

DSC_2167

Dalam Surat Dirjen PHKA No. S. 388/IV-KKH/2013 dinyatakan bahwa BKSDA Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta tanpa kecuali berkewajiban untuk, menertibkan dan menghentikan segala kegiatan sirkus lumba-lumba keliling di wilayah kerja masing-masing, mengambil tindakan untuk menarik kembali satwa tersebut ke lembaga konservasi asalnya serta tidak mengeluarkan SATS-DN (Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri) bagi peragaan Lumba-lumba keliling.

Indonesia Salah Satu Negara Yang Masih Melegalkan Sirkus Lumba-Lumba

Berdasarkan rilis bersama dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), AFJ dan Change Indonesia dijelaskan bahwa Indonesia adalah negara terakhir di dunia yang masih membiarkan sirkus lumba-lumba keliling beroperasi. Ini bukan sesuatu yang pantas dibanggakan – sirkus keliling lumba-lumba sudah dilarang di seluruh dunia untuk alasan yang tepat.

“Pentas lumba-lumba menyahihkan satwa dilindungi ini untuk disiksa dan dieksploitasi untuk kepentingan menangguk laba bagi bisnis-bisnis yang menjalankannya,” kata Femke den hass, dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN) kepada Mongabay-Indonesia.

Femke menambahkan, pada bulan Februari 2013, Menteri Kehutanan Indonesia membuat pernyataan publik bahwa sirkus lumba-lumba keliling adalah kejam dan ilegal, tetapi sirkus keliling tetap saja beroperasi di pulau Jawa.

Surat Edaran PHKA yang disepakati bersama PKBSI. Silakan klik untuk memperbesar gambar.

Surat Edaran PHKA yang disepakati bersama PKBSI. Silakan klik untuk memperbesar gambar.

Bulan Agustus 2013, Menteri Kehutanan memerintahkan penghentian total sirkus lumba-lumba keliling melalui surat edaran resmi. Bahkan, para pemilik sirkus keliling pun menandatangani pernyataan bahwa mereka akan menghentikan pentas keliling mereka. Ketua PKBSI (Perhimpunan Kebun Binatang Indonesia) yang seharusnya bertugas mengontrol tingkat kesejahteraan satwa di kebun binatang -kebun binatang di Indonesia-pun menandatangani pernyataan ini.

“Namun ternyata beliau jugalah yang menghadiri peluncuran bus mini baru untuk mengangkut lumba-lumba dalam sirkus keliling pada tanggal 29 Desember 2013,” kata Femke.

Selain itu, Femke menambahkan, hadirnya bus mini yang dibeli oleh PT. Wesut Seguni Indonesia (WSI), disebutkan akan mengangkut lumba-lumba dengan cara yang ‘lebih manusiawi,” hanyalah akal-akalan dibalik eksploitasi satwa. Karena pada prinsip utamanya adalah bahwa lumba-lumba seharusnya hidup di alam bebas dan sirkus keliling memaparkan lumba-lumba kepada kekejaman di tingkat ekstrim.

“Semua lumba-lumba yang digunakan dalan sirkus-sirkus ini ditangkap dari alam secara ilegal dan dibuat lapar untuk memaksa mereka ‘memburuh dengan upah ikan mati’,” tambah Femke.

JAAN juga mencatat, beberapa tahun berselang, pihak Kementerian Kehutanan meminta bantuan dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN) untuk merehabilitasi puluhan ‘lumba-lumba yang dimiliki secara ilegal’. Sebentuk MoU (Memorandum of Understanding) pun ditandatangani bersama dan fasilitas rehabilitasi telah dibangun dengan bantuan pendanaan, dan di bawah pengawasan Earth Island Institute pada tahun 2011. Akan tetapi, fasilitas ini tetap saja kosong hingga sekarang, dan praktik-praktik ilegal sirkus lumba-lumba keliling terus berlangsung.

“Departemen Kehutanan telah mempercayai pihak-pihak yang salah untuk menjalankan kebun binatang dan perhimpunan yang mengatur mereka. Suatu perhimpunan yang seharusnya mengawasi tetapi justru malahan terlibat aktif dalam perdagangan dan eksploitasi satwa,” kata Femke.

Dalam rilisnya, JAAN, AFJ dan Change Indonesia mendesak bahwa segala permasalahan di kebun binatang-kebun binatang ini, yang anehnya disebut sebagai ‘Lembaga Konservasi’ bisa diselesaikan jika PKBSI (Perhimpunan Kebun Binatang Indonesia) ditutup dan dibubarkan dan Departemen Kehutanan membentuk tim baru yang netral untuk mendorong dan memberlakukan dengan tegas standar kesejahteraan satwa yang baik dan tepat di seluruh kebun binatang/taman satwa di Indonesia.

Kebanyakan kebun binatang di Indonesia bahkan tidak memenuhi kondisi paling mendasar yang diperlukan untuk perawatan dan perlindungan satwa liar yang mereka rawat, termasuk penyediaan lindungan dari iklim dan cuaca ekstrim, air minum dan makanan segar, atau bahkan perawatan medis dasar yang baik. Kasus terakhir, menimpa seekor singa di Kebun Binatang Surabaya yang mati tergantung secara misterius di kandangnya.

Dalam petisi di change.org http://www.change.org/id/petisi/stop-supporting-travelling-dolphin-circuses# yang dibuat oleh Coki “Netral” hingga saat ini sudah mencapai 98.740 pendukung.  Dalam ajakannya Coki menjabarkan bahwa lumba-lumba sengaja dibuat lapar. Mereka diangkut truk yang sempit, gelap, dan pengap. Klorin dalam kolam sering membuat mereka buta. Bunyi yang mereka dengar dalam truk, pesawat, atau musik keras pertunjukkan membuat kerusakan otak. Tidak heran bila mereka sering ditemukan mati.

Sirkus lumba-lumba adalah sebuah bentuk penyiksaan terhadap satwa. Foto: Ni Komang Erviani

Sirkus lumba-lumba adalah sebuah bentuk penyiksaan terhadap satwa. Foto: Ni Komang Erviani

Protokol Kesejahteraan Satwa, Dibuat Namun Tidak Dipatuhi

Pada tahun 2011, Departemen Kehutanan Indonesia menyusun protokol dasar kesejahteraan satwa, namun panduan dalam protokol tersebut tidak ditaati dan dijalankan, dan tidak akan pernah selama PKBSI yang ada sekarang adalah yang tetap dipercayai melakukan tugas pengawasannya.

Dalam catatan JAAN dan AFJ, PKBSI dijalankan oleh mereka yang sudah terbukti terlibat dalam perdagangan satwa. Bukti terbaru diberikan oleh ketua PKBSI, Rahmat Shah yang menyatakan di Radio Republik Indonesia (RRI) pada tanggal 29 Desember 2013 bahwa bus mini milik PT. WSI adalah bus yang fantastis bagi lumba-lumba. ‘Ketika ada nelayan yang mengetahui lumba-lumba tersangkut di jaring mereka, ‘ ujarnya, ‘bawa lumba-lumba itu ke perusahaan ini.’

Pernyataan ketua PKBSI dinilai sebagai suatu kesalahan. Alih-alih memberi saran pada nelayan untuk melepaskan lumba-lumba yang tersangkut di jaring dan membebaskannya kembali ke laut, beliau justru meminta lumba-lumba untuk ditangkap dari samudera dan ditempatkan di bisnis-bisnis yang menangguk keuntungan dari praktek eksploitasi satwa dilindungi ini. Pernyataan itu mendorong nelayan untuk melakukan pelanggaran terhadap UU No. 5 tahun 1990 tentang Keanekaragaman Hayati dan ini juga bertentangan dengan Protokol Nasional tentang Mamalia Laut Terdampar (2012).

“Pemerintah harus mencopot PKBSI sebagai badan penasehat pemerintah dalam hal penyusunan manajemen yang baik bagi kebun binatang/taman satwa, karena PKBSI jelas telah kehilangan netralitasnya,” tutup Femke kepada Mongabay-Indonesia.

Mongabay Indonesia sudah mencoba untuk menghubungi pihak PKBSI akan tetapi, hingga berita ini diturunkan belum ada respon dari pihak terkait.

Sumber

rw
Image

Stop Makan Anjing pada hari Natal

Miris ketika mendengar anjing, sahabat manusia yang sangat setia kepada kita masih menjadi bahan kebrutalan lidah manusia. Di beberapa tempat di Indonesia seperti di Yogyakarta, tradisi makan anjing pada hari Natal sering dilakukan oleh segelintir kelompok orang.Semoga foto di atas bisa menyadarkan para manusia yang kejam itu untuk berhenti makan daging anjing, selamanya.

“Dear God, I hope on X-Mas day celebration this year I won’t be on the food menu list. Amen.”

#StopMakanAnjing #StopDogMeatTrade

lumba1
Standard

Stop Sirkus Lumba -Lumba di Klaten

Perhatian !

Mohon bantuan dari Animalia semua

#StopSirkusLumba dengan mengirimkan SMS ke Humas Kab. Klaten 082225730222 / TELKOMSEL ke 3938 – GRATIS!

Ketik: GERBANG KLATEN tolong segera cabut perijinan sirkus Lumba-lumba di GOR Klaten karena itu ILEGAL & adalah bentuk eksploitasi satwa & pembodohan masyarakat!

~

#StopDolphinCircus  by sending SMS to public relation dept. of Klaten Government to 082225730222 / TELKOMSEL to 3938 – FREE!

Text this: GERBANG KLATEN tolong segera cabut perijinan sirkus Lumba-lumba di GOR Klaten karena itu ILEGAL & adalah bentuk eksploitasi satwa & pembodohan masyarakat!
~

Terlampir surat edaran dari Dirjen PHKA untuk penghentian sirkus keliling Lumba-lumba.

lumba2

stopaduanjing
Standard

[Siaran Pers] Stop Adu Anjing di Indonesia

SIARAN PERS

STOP ADU ANJING DI INDONESIA

Penyalahgunaan dan Kekejaman Terhadap  Hewan Kesayangan

Jakarta, 25 November 2013 – Koalisi Masyarakat Nasional Anti Kekerasan Hewan Indonesia (Komnaskewan Indonesia)

Menghadirkan Nara Sumber :

  1. Rangga  (Manajer Operasional BAWA, Juru Bicara Koalisi Masyarakat Nasional Anti Kekerasan Hewan Indonesia/ Komnaskewan Indonesia)
  2. Benvika (Ketua Jakarta Animal Aid Network / JAAN – Indonesia )
  3. Dessy Z. A. P. (Manajer Program, Animal Friends Jogja / AFJ – Indonesia)
  4. Pemerhati Satwa Kesayangan (Davina Veronica | Garda Satwa, Alberthiene Endah | Penulis, dan Chico Hakim | Politisi)

Jakarta, 25 November 2013 – Hewan kesayangan Anjing dikenal sebagai sahabat baik manusia karena kesetiaannya. Sebagai hewan kesayangan, Anjing selayaknya dipelihara dengan baik, dijaga kesehatannya, disediakanmakanan yang cukup, diberikan perhatian. Banyak masyarakat di Indonesia yang karena rasa kasih sayangnya pada sahabat manusia berkaki empat ini, tidak sekedar menjadikan Anjing sebagai hanya hewan peliharaan tetapi menjadi bagian dari anggota keluarga.

Sayangnya, kesetiaan anjing yang positif bagi manusia sering disalahgunakan oleh para pelaku adu anjing  dengan dalih “Olahraga” di balik kepentingan kepuasan/ hiburan kekerasan atau perjudian. Adu Anjing merupakan kegiatan sadis, anjing-anjing dengan ras khusus dikembangbiakan, dikondisikan, dan dengan sengaja dilatih bertarung, seringkali hingga sang anjing menemui ajal. Sudah jelas ini merupakan tindakan kekejaman terhadap hewan dan melanggar hukum.

Aktivitas Adu Anjing dilakukan secara sembunyi-sembunyi di berbagai tingkatan; jalanan, hobiist di rumah-rumah pelaku dan bahkan yang ‘profesional’ dan sangat terorganisir.

Jaringan para pelaku adu Anjing di Indonesia tersusun rapih dan semakin sulit ditembus. Pihak-pihak yang terlibat memanfaatkan berbagai fasilitas sosial media untuk melancarkan kegiatan, perekrutan anggota maupun mengadakan perjudian terselubung.

Sebagian besar ras Anjing yang dieksploitasi dalam tindak kriminal adu anjing adalah APBT (American Pitbull Terrier) atau sering disebut Pitbull; anjing yang dikenal bersifat dasar sangat loyal dan rela berkorban. Sifat itu digabungkan dengan tenaga yang besar  acapkali membuatnya diperbantukan sebagai hewan pekerja untuk membantu manusia yang diffable. Selain sifat-sifat positif dan keunggulan fisik itu, keunggulan lain Pitbull dengan rahangnya yang kuat dan toleransi terhadap rasa sakit yang tinggi membuatnya menjadi kandidat sempurna untuk dieksploitasi dalam adu anjing!

Proses pelatihan dimulai dari kecil, anjing dibebani dengan rantai berat untuk menguatkan leher mereka, dipaksa menjalani latihan fisik yang berat, ditempatkan di area tanpa perlindungan terhadap cuaca untuk melihat daya tahan fisik mereka, tidak didiberi makanan cukup, menjalani berbagai pengkondisian untuk membuat mereka agresif terhadap anjing lain, seringkali dengan mengisolasi mereka dalam kandang tertutup dan gelap untuk beberapa waktu, dan bahkan diberikan berbagai stimulant seperti steroid agar menjadi agresif, dan zat Narkotik agar makin tahan sakit gigitan. Anjing-anjing yan menunjukkan agresivitas dan daya tahan fisik tinggi akan dijagokan sebagai anjing aduan, sedangkan yang dianggap afkiran akan dijadikan umpan atau sparring partner dalam latihan.

Dalam pertarungan sadis dan kejam, Anjing akan menderita luka berat dari gigitan, patah tulang serta kehabisan banyak darah hingga mengancam hidupnya. Anjing-anjing ini yang bersetia pada ‘si tuan’ rela bertarung sampai mati karena loyalitasnya.

Kegiatan sadis adu Anjing sering disaksikan oleh anak-anak ini dapat mempromosikan ketidakpekaan terhadap penderitaan hewan, antusiasme untuk melakukan kekerasan dan tidak menghormati hukum. Masyarakat tidak bersalah pun menjadi takut/terteror karena ada di daerahnya yang memelihara anjing aduan agresif dan tentu mengandung resiko tinggi bahwa akan ada korban jatuh. Pun, stigma negatif akan menempel pada si anjing yang dianggap buas, padahal itu adalah akibat perbuatan manusia haus darah yang mengeksploitasinya!

Lemahnya penegakan hukum di Indonesia menjadi daya tarik bagi negara ini untuk dijadikan lokasi dan menyuburkan kegiatan sadis dan kejam ini. Kegiatan adu anjing bertaraf nasional dan bahkan dihadiri pelaku dari mancanegara tercatat kerap diadakan di beberapa kota-kota besar di Indonesia; Jakarta, Yogyakarta, Malang, Bandung, Surabaya dll. Diindikasikan perkembangan saat ini adalah para pelaku adu anjing di Indonesia sudah masuk dalam jaringan sindikat internasional!

Korban hewan selamat dari adu anjing seringkali sulit untuk direhabilitasi agar kembali berperilaku normal karena ‘bentukan’ perilaku negatif telah terpatri kuat dan psikologis si anjing sudah terganggu akibat metode pelatihan dari kecil untuk diciptakan sebagai mesin pembunuh demi kebanggaan, profit, prestige dan hasrat haus darah para pelaku adu anjing.

Kegiatan adu Anjing  dengan jelas bertentangan dengan 5 prinsip kebebasan untuk kesejahteraan hewan :

  1. Kebebasan dari rasa haus dan lapar; saat di’latih’ bertahan hidup anjing-anjing dipaksa bertahan dengan minim pakan dan akses ke air minum.
  2. Kebebasan dari ketidaknyamanan secara fisik; saat pelatihan anjing-anjing ditempatkan di area tak terlindung dari paparan cuaca, dipaksa hingga batas maksimal kemampuan fisik mereka.
  3. Kebebasan dari rasa sakit, luka dan penyakit; saat ditarungkan dengan sengaja anjing-anjing itu mau tidak mau harus menahan sakit, terluka dan paska pertarungan seringkali pengobatan yang layak tidak diberikan.
  4. Kebebasan untuk mengekspresikan perilaku secara normal; anjing-anjing aduan diisolasi dari yang lain dan tidak dapat hidup berkelompok dan bersosialisasi.
  5. Kebebasan dari rasa takut dan tertekan; pertarungan yang dipaksakan oleh manusia.

Rujukan:

  • Pasal 302 KUHP tentang kesejahteraan hewan.
  • Five Freedom principles.
  • Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Pasal 66.
  • Surat Edaran Direktorat Jendral Peternakan Kementerian Pertanian Nomor 14090/HK.340/f/09.09 Tahun 2009.

Adu Anjing merupakan kegiatan sadis dan tindakan kekejaman terhadap satwa, anjing seringkali ditarungkan sampai mati, anjing yang kalah dapat terbunuh dan yang menang terkadang mati karena luka-luka infeksi dan cedera fatal. Kalaupun bertahan, mereka akan dipulihkan hanya untuk ditarungkan kembali. Kegiatan ini juga disinyalir kuat melibatkan perjudian terselubung. Ini merupakan bentuk pelanggaran dan tindak pidana.

Tak ada pemenang dan tak ada pecundang di adu anjing, yang ada hanyalah KORBAN manusia haus darah, haus profit dan kebanggaan diri.

 Stop Adu Anjing di Indonesia!!!

stopsengsu
Standard

Petisi Stop Makan Anjing

#StopMakanAnjing

Tanda tangan petisi ini: http://www.change.org/petitions/gubernur-sultan-yogyakarta-bantu-hentikan-kekejaman-perdagangan-anjing-untuk-konsumsi-di-yogyakarta

Sebagian kecil anjing2 yg akan dibawa dari Jabar ke Jogja. Berjam-jam sebelum perjalanan panjang melelahkan, mulut & kaki mereka sudah diikat entah sejak kapan di rumah pengepul. Sepanjang hari tanpa makan & minum, sepanjang hari pegal terbelenggu, sepanjang hari meronta berusaha membebaskan diri, hingga akhirnya hanya bisa menyerah lelah berontak namun tak berdaya…sebagian sekarat karena sakit, dehidrasi, ditumpuk-tumpuk dalam truk dan hilang harapan. Dukung Pemprov DIY dan instansi terkait untuk menghentikan kekejaman ini dan mewujudkan Jogja Istimewa tanpa Kekerasan Terhadap Satwa dengan menandatangani petisi di atas.

Bantu share !

monkey1
Standard

Stop Dancing Monkeys ! A photo from Finland

Scroll down for English Text

#StopTopengMonyet

monkey2

Fotografer dan seniman dari Finlandia, Perttu Saksa, dalam seri karya berjudul “A Kind of You” menampilkan foto monyet-monyet yang didandani dengan pakaian kotor dan topeng mengerikan. Foto-foto tersebut diambil dari jalanan di Indonesia. Perttu menjadikannya sebagai subyek foto dan memotretnya sedemikian rupa sehingga kita bisa merasakan kekejaman dan perbuatan tak bermoral manusia di balik apa yang didalih sebagai ‘tradisi’.

Sumber dan Foto – foto lain dapat dilihat di: http://www.emptykingdom.com/featured/perttu-saksa/

~

Finnish photographer and visual artist Perttu Saksa’s series “A Kind of You” features a chained up monkey wearing scummy dirty clothes and creepy doll masks. Taken in Indonesia, Perttu found trained performance monkeys to be his subjects and photographed them in a way we feel questions the cruelty and immorality involved with the tradition.

Full Album goes here: http://www.emptykingdom.com/featured/perttu-saksa/

 

3 Mario Chained zoom in
Video

Monkey Rehabilitation Project : Off the Streets and Back to the Forests

Who we are

Animal Friends Jogja [AFJ] is a non-profit, non-funded group of animal loving friends who have been undertaking animal rescues, education, humane population control, adoption, advocacy for better laws and conditions for animals, and campaigns to end the animal abuse that is evident in most levels of society in Indonesia, in particular for the city of Yogyakarta (or Jogja as the locals call it).  AFJ is self-funded with financial and other donations from friends, family and members of the community who care about the animals around them.

 

What we do

In addition to our education, population control and advocacy work, we currently run two halfway houses for domestic animals that have been rescued and are in varying stages of rehabilitation, recovery from injury/illness or simply awaiting for adoption to new forever homes.  Members have donated land to house the cats and dogs who are uncaged (except in recovery/quarantine stage), and free to roam about our large enclosed yards.  Our staff members live on site so the animals are cared for as closely as possible to a real family home situation, to get them used to living in domestic situations and ready for adoption to new forever homes.

 

From Domestic to Wild

Since AFJ began in 2009, and more so after Merapi Volcano erupted, we have rescued various wild animals, including slow loris, native forest cats, eagles, turtles, long tailed macaques, apes, and snakes, which we handed over to various organizations that rehabilitate and release wild animals.  We only kept rescued wild animals for short periods while awaiting transport to these centres.  But this all changed this year when we were faced with having to accommodate a non-domestic animal as no one would take the Long Tailed Macaque we’d rescued.

 

Long Tailed Macaques are listed as Appendix II CITES – Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) related to species that, although not currently threatened with extinction, might become so unless their trade is strictly regulated.   As they are not strictly regulated now, these wild animals are open to exploitation thus increasingly more cases are being reported to AFJ, leading to the necessity to take in wild animals, in particular macaques.

 

Mario’s Story

In early 2013, we received a report of a Long Tailed Macaque (Macaca Fascicularis) that was being kept on a short leash near a busy intersection in a water drainage area without food or water the entire time.

When our volunteers arrived to investigate, not realizing they were from AFJ, the owner showed how tough he was by kicking and hitting poor Mario (the name given by Ariani, the woman who reported Mario’s situation to AFJ), and gave him a lit cigarette and tried to force poor Mario to smoke it, all the while laughing and showing off.

7 Mario being forced to smoke by ex owner

Mario had previously been trained as a masked dancing monkey (please read http://www.mirror.co.uk/news/uk-news/shocking-truth-of-how-monkeys-are-tortured-108855) but had grown aggressive and was no longer useful as a way to make money anymore so he was being left to die.  Mario’s tail had already been cut off, sold for medicine.

1 Mario chained in drain

After witnessing this terrible treatment first hand, AFJ decided that Mario had to be removed from the situation.  By threatening to report the owner to police under Indonesian Criminal Code 302 on animal abuse (a newly revised law that AFJ has been heavily campaigning for), the owner became worried and AFJ rescue volunteers were able to call in a vet to subdue Mario and take him back to our base camp in the forest south of Yogyakarta.

6 Mario and Ex Owner

10 Dr Andre using blow pipe to anaesthetise Mario

13 Using plyers to free Mario

We expected to be able to transport Mario as soon as possible to an organization for rehabilitation, but no one could take him.  The organizations we usually handed wild animals over to, indicated that they are at maximum capacity and could no longer receive any more macaques.

16 Mario in travel cage to clinic

 

18 Blood being taken for Hepatitis and other tests 20 Mario Blood Test Result Negative

AFJ is now rehabilitating Mario and hoping to release him to a safe habitat in the near future.  When he first came to live at the half way house, he was very distressed and confused.  He would frequently have fits, biting and hitting himself and crashing into his temporary cage and at other times would just sit in a small space unmoving appearing depressed.  Now, with the help of our fantastic staff members, Mario is relearning how to be a real monkey again, being taught to forage and make a nest in leaves and branches, and also learning how to eat food fit for a monkey after years of being fed scraps.

22 Volunteer built enclosure of wood and bamboo 25 Volunteers building enclosure while Mario watches

21 At AFJ Mario eating fruit while bamboo and wood enclosure is built

 

Mario of the chain and into his first bamboo and wood enclosure Old enclosure eaten by termites Termites have eaten the wood

What we need

The bamboo and wood structure we built when he first arrived was temporary as we had hoped to have him for just a short time, but he lived there for over half a year.  Before it fell down, AFJ decided to try and raise funds for a more stable and larger enclosure that would house more than one macaque in readiness for more incoming rescued animals.

Old enclosure and foundations for new enclosure Tyo cutting bamboo for monkey food challenge tubes Tyo putting up a used tyre for a monkey swing Monkey enclosure enrichment activities Old and New Enclosures

We were able to raise US$1.800 of the targeted US$3.900 we would need to complete the rehabilitation project that is able to house up to 5 macaques. ( see http://www.indiegogo.com/projects/off-the-streets-back-to-the-forest/x/3936176  )

Indiegogo Perks ready to send

After consultation with primate experts, learned that it will be impossible for Mario to be released alone as he will have great difficulty coping without a family group.  This means that AFJ will have to receive at least 4 more macaques in order to rehabilitate them and release them as a group as 5 is the minimum number of macaques needed for a social group to be released to the wild to have any chance of survival against any rival groups in the area.

Mario has now been moved into the new enclosure and we are currently starting the second stage of the enclosure.  We still need more funds as the total will come to around US$3.900 (not including additional carers, medical and relocation expenses).  If you would like to donate funds or materials, please go to the donations link on this website and specify Monkey Rehab in the reference line.

Moving Mario to New Indiegogo Funded Enclosure

 

Mario's first day in the new enclosure Creative ideas to challenge Mario to forage for food

We need to complete the construction of the primate enclosure as soon as possible as the dancing monkey street performers are flooding the streets of Jogja after Jakarta’s governor fully backed the confiscation of all dancing monkeys from the streets of Jakarta earlier this week.  If our campaign succeeds to pressure the Sultan of Jogjakarta to take similar action, we can expect to be adding to the number of macaques in our rehabilitation facility very soon.

Primate Rehabilitation Enclosure

The Planned Rehabilitation Enclosure

The initial plan is to build six enclosures in one block that can house up to 5 macaques or other primates. The first stage of two enclosures has been finished to rehouse Mario and have an empty enclosure to be used on rotation for cleaning.  With the help of one of our fantastic volunteers who has just graduated as an Architect, a suitable plan was drafted and the second stage is under construction now.

The foundations of the first stage have been laid draining our building fund (AUD 500 for cement, reinforcement steel, rock, sand, and trades person fees – labour was free from our hard working volunteers.)  We are now in need of building materials to create the structure and enrichment for Mario and the new macaques to be rescued.  We really hope that you will support our endeavours to return these abused animals to their rightful place in the wild.

Construction costs :

*iron piping cost USD 700

*wire mesh cost USD 1,700

*supporting materials and enrichment cost USD1,000

*tradesworker fees USD500

*rustproofing paints cost USD 300

* building tools and equipment (brushes, wirecutters, etc.) USD 300

*labour USD 0 (free volunteers)

 

Estimated Ongoing costs :

* Confiscation / capture – USD 50 – 100 per macaque (depending on numbers, size, location and distance)

* Complete Blood and physical checkup –  USD 100 per macaque (approx)

* Veterinarian monitoring costs USD 25 per week @ 2 visits per week (approx)

* Enrichment – old bicycle/motorcycle tyres and inner tubes USD 0 ; mature fruit seedlings/replantable fruit trees; USD 500

* Food costs USD 20 per macaque per week (approx)

* Carer wages USD 30 per carer per week (approx)

* Relocation to new habitat costs USD 300 -500 per macaque (depending on numbers, size, location and distance)

* Ongoing monitoring/medical/food costs if required (as above)

 

The Impact

AFJ has received increased reports of macaques being abused or abandoned in and around Jogja.  People buy them from the local animal market as small cute babies, but as they get older their teeth grow and they become more and more frustrated with their captivity, usually in small cages or on short chains, being fed rice and other non-suitable foods.  This makes them very aggressive and owners end up abusing them – removing their teeth, hitting and kicking them to try and tame them, and/or release them in forests that cannot support them, and they end up going into villages to search for food often being shot or beaten and killed, or even worse,  injured and running off to die.

In addition, there has been an alarming increase in wild animal exploitation in the form of Topeng Monyet (Masked Monkey Street Performances), which are flooding into Jogja from Jakarta after another animal welfare group, JAAN (Jakarta Animal Aid Network) together with the local government, confiscated dozens of Long Tailed Macaques from their tortured life performing on the streets.  With laws tightening in Jakarta, which is around a 12 hour drive from Jogja, our city has become a new target area for Topeng Monyet.

 

Apart from campaigns and advocacy to strengthen the laws on animal abuse, this program is just one small step towards getting these tortured animals back into the forests they came from, or if they’ve been felled, to other safe habitats.

There are currently 3 macaques waiting on rescue and we need to help them as soon as we can so they can begin socialization, trauma rehabilitation and learning wild monkey behaviour again.

If you hava a love for animals, please help us to provide a solution for the street monkeys.  You can be a major part of this campaign by donating to our campaign and remember, every cent counts and will help to provide a way back to freedom for these tortured monkeys.

No amount is too small…

If you can’t contribute financially

You can still help by spreading the word and increasing the campaign’s visibility!

  • Share the macaque rehabilitation project with friends and family who may be interested in supporting our campaign. 
  • Share this blog with anyone interested in animal rescue.
  • Post this campaign link on Facebook, Twitter, Linkedin, Google+, and other social media platforms. 
  • Give a presentation for community groups, schools, or social groups.  We can provide you with a presentation, short film and a lesson plan, or if you are in Yogyakarta we can come and visit your group.

All of these actions will go a long way to making this macaque rehabilitation project a success!

menhut1
Gallery

Aksi Protes bersama di 3 kota menuntut Janji Pak Menhut : Stop Dolphin Traveling Circus Operation !

Tanggal 10 Oktober 2013, AFJ, Jaan dan teman – teman Welfarian yang tersebar di Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya mengadakan aksi serempak di tiga kota besar di Pulau Jawa sebagai aksi protes menagih janji Pak Menhut, @Zul_Hasan yang telah mengedarkan surat pelarangan sirkus keliling lumba – lumba.

Pada bulan Februari 2013 Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, membuat pernyataan publik bahwa pertunjukan keliling lumba-lumba adalah ilegal namun SIRKUS-SIRKUS itu masih terus beroperasi. Pada 19 Agustus 2013 semua bisnis pertunjukkan keliling lumba-lumba di Indonesia telah menandatangani notulensi pertemuan PKBSI (Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia) yang menyatakan kesepakatan menghentikan pentas Lumba-lumba keliling (salinan notulensi terlampir).

Berdasarkan Surat Dirjen PHKA No. S. 388/IV-KKH/2013 tanggal 19 Agustus 2013 tembusan ke Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan (salinan surat terlampir), dinyatakan bahwa BKSDA Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta tanpa kecuali berkewajiban untuk:
1. Menertibkan dan menghentikan segala kegiatan sirkus lumba-lumba keliling di wilayah kerja masing-masing.
2. Mengambil tindakan untuk menarik kembali satwa tersebut ke Lembaga Konservasi asalnya.
3. Tidak mengeluarkan SATS-DN (Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri) bagi peragaan Lumba-lumba keliling.

Namun, hingga kini kegiatan eksploitasi Lumba-lumba dalam bentuk pentas keliling masih berlangsung di berbagai tempat, yaitu di Lapangan Kipan C521/DY, Tuban, Jawa Timur (13 September – 13 Oktober 2013, oleh PT. WSI Kendal), di Lapangan Parkir Stadion Wergu, Kudus, Jawa Tengah (20 September – 20 Oktober 2013 oleh PT. WSI Kendal) dan disinyalir pentas keliling Lumba-lumba juga diselenggarakan di Pekalongan, Jawa Tengah.

Praktek pentas Lumba-lumba dan aneka satwa tidak mempresentasikan sebuah proses didik yang beresensi, dan malahan melecehkan nilai edukasi dan konservasi. Edukasi dan konservasi yang diklaim oleh sirkus satwa hanyalah tabir pembenaran eksploitasi satwa liar untuk hiburan dan kepentingan komersial belaka. Praktek edukasi yang salah ini akan mencetak generasi-generasi baru Indonesia yang tidak terpuji, mengancam kelestarian satwa liar di habitat alaminya, serta mendorong penangkapan dan perdagangan ilegal satwa liar. Pertunjukan sirkus Lumba-lumba keliling ini adalah yang terakhir di dunia. Hanya Indonesia satu-satunya negara yang masih membiarkan ini berlangsung!

Pelanggaran demi pelanggaran yang dilakukan oleh korporat-korporat sirkus Lumba-lumba keliling masih diberi ruang oleh pihak-pihak yang berwenang, gencarnya kecaman dari organisasi-organisasi pemerhati kesejahteraan satwa bersama masyarakat peduli satwa tidak dihiraukan. Pun dengan telah beredarnya Surat Dirjen PHKA No. S. 388/IV-KKH/2013 tanggal 19 Agustus 2013 yang notabene merupakan langkah awal PENUNAIAN JANJI MENTERI KEHUTANAN ZULKIFLI HASAN untuk menghentikan sirkus Lumba-lumba keliling yang telah beliau nyatakan ILEGAL!

Aksi simpatik masyarakat peduli satwa Yogyakarta bersama Animal Friends Jogja (AFJ) menampilkan bentangan spanduk raksasa untuk menagih janji pada Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan yang dianggap bertanggungjawab penuh atas masih terselenggaranya sirkus Lumba-lumba keliling di berbagai kota dan pembiaran terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan korporat-korporat sirkus Lumba-lumba keliling dan pembagian stiker peduli satwa. Aksi simpatik ini adalah juga bentuk tuntutan pada Kementerian Kehutanan beserta jajarannya untuk SEGERA menertibkan dan menghentikan sirkus lumba-lumba keliling di manapun di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengembalikan lumba-lumba ke habitat aslinya.
Aksi serupa digelar serentak di Bundaran H.I. Jakarta oleh JAAN (Jakarta Animal Aid Network) dan di Taman Apsari Surabaya oleh Welfarian Indonesia dan masyarakat peduli satwa setempat.

 

 

Beberapa berita terkait:

  • http://www.mongabay.co.id/2013/10/11/menteri-kehutanan-dinilai-tak-serius-hentikan-sirkus-lumba-lumba/
  • http://news.detik.com/readfoto/2013/10/10/133107/2383506/157/1/lumba-lumba-tagih-janji-menhut?991105462
  • http://photo.sindonews.com/view/4162/aksi-peduli-satwa-tagih-janji-menhut
ipin
Standard

Save Bawa by AFJ warriors #SaveBAWA

Hi Animalia,

Tolong tanda tangani petisi ini segera ya !! Support kampanye online untuk menghentikan eliminasi masal dengan kedok penanggulangan rabies di Bali.

Caranya gimana ?

  1. Tanda tangani petisi pada halaman ini
  2. Upload foto kamu di social media atau foto teman kaki empatmu seperti foto Ivine, Moksa, dan Jupetong di atas.

Tindakan sekecil apapun sangat berarti ! Mari berjuang untuk teman – teman kita :)